Sabtu, 28 Maret 2015

TAZKIYATUNNAFS (1)


Ikhtisar Ihya Ulumuddin Imam al-Ghazali
karangan Sa’id Hawa

Bagian 1: Adab dan tugas murid
1.      Mensucikan jiwa dari akhlak yang hina dan sifat tercela (musyrik itu najis: at-Taubah 28)
2.      Mengurangi keterikatan dari dunia yang melalaikan hati (one heart: Al-Ahzab 4)
3.      Tidak sombong kepada guru (As-Sya’bi memberikan kuda Zaid bin Tsabit stelah dia menshalatkan jenazah, Ibnu Abbas menghampiri dan menuntun kuda tersebut, Zaid melarang tapi Ibnu Abbas menjawab: “beginilah kami diperintahkan untuk berbuat kepada ulama”. Zaid lalu mencium tangan Ibnu Abbas dan berkata: “beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan kerabat Nabi kami Shalallau alaihi wa sallam”.
4.      Menekuni ilmu mulai dari tahap awal dan menghindari belajar tentang perbedaan pendapat dan pertentangan dalam ilmu yang dikaji.
5.      Berusaha menekuni berbagai disiplin ilmu agama, jika tidak sanggup maka kuasai ilmu-ilmu yang terpenting saja.
6.      Tidak sekaligus menekuni seluruh ilmu, tapi bertahap dimulai dari yang paling penting terutama ilmu akhirat (akidah, ibadah, syariah, akhlak)
7.      Tidak tergesa-gesa masuk ke ilmu baru sebelum matang di ilmu yang dipelajari sebelumnya.
8.      Mengetahui ilmu mana yang lebih diprioritaskan dipelajari, standarnya 1) mulianya hasil, 2) kekuatan dalil yang memerintahkannya.
9.      Memperindah akhlak dan tidak meremehkan ilmu-ilmu yang fardhu kifayah dipelajari. (Allah tinggikan orang berilmu dan beriman beberapa derjat: Al-Mujadalah 11)
Tugas pengajar
1.      Belas kasih kepada murid (Rasulullah mengumpamakan beliau bapak dari para shahabat)
2.      Meneladani Rasulullah yaitu ikhlas dan tidak mengharapkan imbalan duniawi dalam mengajar.
3.      Selalu menasehati murid untuk belajar demi taqarrub pada Allah
4.      Mencegah murid dari akhlak tercela dengan sindiran halus atau kata-kata bijak penuh kasih sayang
5.      Jika hanya menguasai beberapa ilmu, jangan menjelek-jelekkan ilmu lain karena dianggap tidak penting
6.      Mengajarkan murid sesuai dengan tingkat pemahaman mereka dan bertahap menambahkan ilmu.
7.      Jika ada murid yang terbatas kemampuannya, hendaknya menyesuaikan dengan apa yang bisa dipelajarinya dan menyampaikan yang penting-penting saja.
8.      Mengamalkan ilmunya dan meneladankan dengan praktek (Ahlu Kitab hanya menyuruh tapi tidak melakukan: Al-Baqarah 44)

GEMBIRA BERHARI RAYA

repost tulisan lama...

GEMBIRA BERHARI RAYA

 by Dwi Sukmanila Sayska MIS

Seiring terbitnya fajar Syawal, Ramadhan berlalu meninggalkan kita.  Tak terasa begitu cepat bergulir detik-detik indah itu. Padahal kita belum maksimal melaksanakanshiyam, belum tuntas berulangkali mengkhatamkan dan mentadabburi Al-Qur’an, belum optimal memanfaatkan sepertiga malam, belum cukup banyak bersedekah, dan belum puas melaksanakan ibadah-ibadah unggulan lainnya.  Akankah tahun depan bertemu lagi dengan Ramadhan? Sudah layakkah ibadah sebulan silam mengangkat diri menjadi lebih takwa dan terbebas dari neraka? Dan kini, di hari raya ini, apakah kita benar-benar berhak merayakan kegembiraan itu?

Memaknai Idul Fitri

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ اْلأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam datang ke Madinah sedangkan mereka (penduduk Madinah) memiliki dua hari untuk bermain dan bergembira ria. Maka Rasulullah bersabda, ‘Ada apakah dengan dua hari ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain dan bergembira ria pada masa jahiliyah di dua hari tersebut.’ Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari kalian dengan dua hari yang lebih baik darinya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.’ (HR. Nasa’i)

Berdasarkan hadis di atas, hari raya adalah hari kegembiraan bagi setiap yang beriman. Jadi, meskipun sedih berpisah dengan Ramadhan, hari raya tetap harus disambut gembira. Gembira karena berhasil melepaskan dosa-dosa selama Ramadhan. Gembira karena menang melawan hawa nafsu dan bermujahadah dalam ketaatan dan ibadah. Gembira karena hari ini Allah membolehkan berbuka, merahmati kita dan melipatgandakan pahala puasa dan ibadah Ramadhan kita. Karenanya kegembiraan ini tidak pantas disambut dengan gelora nafsu semata. Allah mengingatkan dalam surah An-Nashr, fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu, innahu kana tawwaba. Kemenangan harus disambut dengan tasbih, tahmid dan istighfar.

Perayaan Di Tanah Air Dan Mesir

Dalam literatur Islam klasik, Idul Fitri disebut sebagai Idul Ashgar sementara Idul Adhha adalah Idul Akbar. Itulah kenapa masyarakat Mesir jauh lebih menyemarakkan Idul Adha ketimbang Idul Fitri.

Sedangkan di Indonesia, Idul Fitrilah hari raya besar. Para perantau mudik untuk berhari raya bersama keluarga. Idul Fitri tak hanya dirayakan satu dua hari, tapi selama bulan Syawal adalah lebaran. Beraneka kue dan minuman spesial dihidangkan, berbagai masakan khas disajikan. Pakaian dan perlengkapan rumah serba baru. Masyarakat saling berkunjung ke sanak saudara, handai taulan dan tetangga untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.  Anak-anak gembira mendapat uang raya. Beberapa instansi, organisasi dan komunitas mengadakan halal bihalal. Pejabat negara hingga presiden tak ketinggalan mengadakan open house untuk masyarakat luas.
Bagi masyarakat Mesir, Idul Fitri cukup dirayakan dengan kumpul keluarga dan rekreasi di tempat hiburan, taman atau kebun binatang. Sebagian penduduk Kairo juga mudik lebaran, membuat suasana pemukiman menjadi lengang, rumah-rumah kosong dan jalanan yang nyaris hening. Ini menambah rasa sepi di hati para mahasiswa Indonesia yang tengah dilamun kerinduan mendalam akan kampung halaman.

Untungnya masisir masih punya komunitas kekeluargaan dan persatuan mahasiswa yang menggelar berbagai open house. Ziarah dan saling berkunjung ke rumah senior dan kawan-kawan juga tetap dibudayakan. Hingga Idul Fitri di Mesir tetap penuh arti, sebagai ajang mempererat ukhuwah dan silaturrahmi.

4 Kategori Kegembiraan

Menyambut Idul Fitri dengan penuh kegembiraan adalah sebuah kemestian. Namun faktanya, kegembiraan yang dirayakan berbagai lapisan masyarakat tidaklah sama substansinya. Sedikitnya kita bisa bagi jadi 4 kategori:

Pertama, kegembiraan anak-anak menyambut lebaran. Bagi mereka hari raya identik dengan baju baru, makanan lezat, dapat “salam tempel” ketika berkunjung ke rumah keluarga dan sanak saudara, serta bertamasya ke taman hiburan. Mereka hanya menginginkan sesuatu yang sifatnya kebendaan dan belum paham makna filosofis dari Idul Fitri.
 Kedua, kegembiraan yang dirasakan muslim awam/Islam KTP. Meski jarang shalat dan puasa atau bahkan tidak sama sekali, mereka tetap gembira menyambut Idul Fitri. Selain kegembiraan bersifat materi, mereka juga menikmati nilai-nilai sosial di hari lebaran yaitu tradisi untuk mengunjungi sanak saudara, kerabat dan kawan dekat.
Ketiga, kegembiraan yang dirasakan oleh umat muslim yang menjalankan perintah syariat di bulan Ramadhan. Meraka puasa, sholat tarawih, shadaqoh, tadarus Al-Qur’an,  i’tikaf, dan memperbanyak ibadah-ibadah sunnah. Tetapi semua itu masih dirasakan sebagai beban bahkan seolah terbelenggu olehnya. Padahal hanya setan saja yang dibelenggu selama Ramadhan. Bagi muslim seperti ini, selain gembira dengan perayaan bersifat materi dan tradisi silaturrahmi, mereka juga memaknai Idul Fitri sebagai momen terlepas dari kekangan Ramadhan. Dan ketika takbir hari raya berkumandang mereka merasa bebas dan secara tidak sadar melampiaskannya secara berlebihan. Pasca Ramadhan bukannya membaik, malah kembali pada kondisi awal. Semua ketaatan dan beragam ibadah mulai menyusut hingga tak tampak lagi. Sungguh ironi.  
Keempat, kegembiraan yang dirasakan umat muslim yang menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh keimanan. Ramadhan  dimaknai sebagai momentum peningkatan kualitas diri, hingga dimanfaatkan dengan keikhlasan dan semangat tinggi. Ramadhan dirasakan sebagai kesempatan langka yang belum tentu terulang lagi sehingga digunakan sungguh-sungguh demi menggapai ampunan dan ridha Allah. Lalu ketika takbir hari raya menggema, kegembiraan tertinggi mereka berasal dari rasa syukur yang tak terhingga. Syukur atas kesempatan yang diberikan Allah untuk merengkuh pahala sebesar-besarnya di bulan penuh berkah. Syukur karena diberi peluang menempa diri dan meningkatkan kualitas iman di bulan penuh ampunan. Sehingga ketaatan dan kedisiplinan ibadah selama Ramadhan menjadi bekal peningkatan untuk sebelas bulan berikutnya.

7 Sikap Gembira Berhari Raya

Ada beberapa sikap yang hendaknya terwujud dalam kegembiraan dan kebahagiaan di Hari Raya Idul Fitri, agar tidak keluar dari koridor syariat, yaitu:
1.      Tidak Berlebih-lebihan:
1.      Dalam mengkonsumsi makanan
Karena begitu beragamanya hidangan istimewa di hari raya, kita lupa dengan kapasitas perut kita, sehingga terlalu banyak mengkonsumsi makanan. Sementara Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Dan makan dan minumlah kalian, tapi janganlah kalian berlebih-lebihan. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Al-A’raf 31)
2.      Dalam berpakaian. Meski disunnahkan memakai pakaian baru, tetapi jangan sampai bermewah-mewah apalagi melanggar batasan syar’i. Allah berfirman:
وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُولَى
Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab 33)
3.      Dalam tertawa dan bercanda.
Tertawa, bercanda, mendengarkan hiburan termasuk perkara yang dimubahkan terutama pada Idul Fitri. Namun jangan sampai melupakan kewajiban atau menjerumuskan pada sesuatu yang dilarang. Allah berfirman:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلاً وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.(Attaubah 82)
2.      Mengevaluasi ibadah Ramadhan dan penuh harap agar semuanya diterima Allah dan diampuni dosa-dosa yang berlalu. Rasulullah bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian berdoa maka janganlah dia mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Kamu mau’ tetapi hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam memintanya dan memperbesar harapan, sebab Allah tidak merasa berat terhadap apa pun yang akan diberikan oleh-Nya.” (HR. Muslim).
3.      Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dan disiplin dalam ibadah, karena predikat taqwa haruslah berkelanjutan hingga akhir hayat. Rasulullah bersabda:
”Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun dan kapanpun juga, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapuskannya, dan bergaullah bersama  manusia dengan akhlak yang baik”. (HR Tirmidzi dan Ahmad).
4.      Saling mendoakan semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita. Dalam sebuah hadits diriwayatkan :
قَالَ وَاثِلَةٌ لَقَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَيْدٍ فَقُلْتُ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ قَالَ نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
Watsilah bin Al-Asqo berkata, ‘Aku menemui Rasulullah pada hari Id lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah menjawab, ‘Ya, Taqabbalallah Minna Wa Minka’ (HR. Baihaqi).
5.      Jadikan Idul Fitri sebagai salah satu momentum memaafkan orang lain, bersilaturrahim dan meminta maaf kepada keluarga, sanak saudara, teman dan tetangga. Allah berfirman:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(Penghuni surga adalah) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran: 134)
Rasulullah bersabda:
”Siapa yang ingin dimudahkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya menyambung tali kerabat.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)
“Siapa yang menengok orang sakit atau menziarahi saudaranya karena Allah Ta’ala, maka datanglah penyeru yang menyerukan; engkau baik, dan langkahmu juga baik dan engkau akan masuk surga sebagai tempat tinggal.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Semoga kegembiraan Idul Fitri ini betul-betul bergema dalam jiwa kita. Bukan hanya kegembiraan semu bersifat kebendaan dan kesenangan duniawi semata. Dan semoga juga dipenuhi semangat juang di 11 bulan mendatang, untuk terus melestarikan ketaatan Ramadhan, senantiasa mengisi hari-hari dengan amal kebaikan. Karena sejatinya, hari raya ini adalah hari pertama kita bertempur kembali melawan godaan setan. Wallahu A’lam.

Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Bundo Kanduang KMM Mesir 2010.

PENYEBARAN SUNNAH DI MASA RASULULLAH


repost tulisan lama...

PENYEBARAN SUNNAH DI MASA RASULULLAH

oleh: Dwi Sukmanila Sayska, MIS

Al-sunnah tersebar seiring dengan tersebarnya al-Quran sejak ditegakkan syiar Islam. Pada semua tahapan dakwah Rasulullah sama ada di Mekkah maupun Medinah, Beliau menyampaikan risalah ilahiyah kepada ummat manusia, memberi fatwa, memutuskan perkara dan hukum-hukum, memimpin mereka pada saat damai maupun perang, berkhutbah, serta mendidik dan mengajari mereka mengenai agama baru yang mulia ini. Para sahabat generasi awal pun sangat bersemangat mempelajari dan menghafal ilmu-ilmu baru yang mereka terima dari Nabi saw. Sehingganya, banyak faktor yang memungkinkan dan menjamin al-Sunnah menyebar dengan cepat dan merata ke pelbagai kawasan dunia.

Manurut  Ajaj al-Khatib dalam kitabnya Sunnah Qobla Al-Tadwin (lihat hlmn 68-73), kita dapat menyimpulkan, diantara faktor-faktor pendukung tersebut ialah:
1.    Semangat dan kesungguhan Rasulullah saw dalam menyampaikan dakwah menyebarkan Islam. Beliau memanfaatkan setiap metode dalam setiap kesempatan dan periode dakwah. Tampa mengenal siksaan dan kepayahan, Beliau senantiasa berbuat maksimal dalam menyampaikan risalah sehingga kokohlah Islam dan kuatlah kedaulatannya. Mesjid merupakan tempat paling utama untuk menuntut ilmu, mendengar fatwa dan mendapat nasehat bagi para sahabat. Dari Menurut penelitian M.M. Azami tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di zaman Rasulullah saw, pada tahun 2 H madrasah-madrasah sudah mulai dibuka. rbukti dengan penuturan Ibn Saad, ketika Ummi Maktum tiba di Medinah sesudah perang Badar, ia tinggal di “Dar al-Kubra” (rumah para pembaca al-Quran) iaitu rumah milik Makhrimah bin Naufal (Ibnu Sa’ad, jld 1 hlmn 150). Selain itu tidak mustahil adanya sekolah-sekolah lain, seperti dituturkan Ibnu Mas’ud, bahawa pada waktu ia belajar al-Quran dari Rasulullah saw, sebanyak tujuh puluh surah, Zaid bin Thabit telah mempunyai sejenis buku yang disimpan di “kuttab”/tempat-tempat belajar.(Musnad Imam Ahmad, jld 1 hlmn 273). Pemakaian kata “kuttab” pengganti kata ’suffah” menunjukkan bahawa saat itu ada tempat belajar untuk kanak-kanak. Di Medinah peta pada waktu itu telah menunjukkan ada sembilan mesjid (al-Badzuri, al-Ansab, jld 1 hlmn 273), yang kemungkinan juga dipakai sebagai madrasah.(MM A’zami, 1980, 85) Rasulullah saw juga menyelang-nyelingi pemberian nesahat antara suatu waktu dan waktu lainnya, kerana pengajaran dan penyuluhan yang monoton dan langsung-menerus akan menimbulkan rasa bosan dalam jiwa, sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak maksimal. Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah saw mengganti-ganti waktu pengajaran kepada kami, kerana tidak ingin kami bosan. (Bukhari, jld 1 hlmn 172 dan 173, dan Ahmad jld 5 hlmn 202)
2.    Karaktristik Islam dan sistim kehidupan baru yang dibawanya. Ini membuat masyarakat bertanya-tanya apa sesungguhnya Islam itu, bagaimana hukumnya dan tujuan yang akan dicapai. Islam memberikan nuansa baru dalam kehidupan masyarakat jahiliyah yang serba keras dan biadab. Banyak yang mendatangi Rasulullah saw dari tempat yang jauh sekalipun, untuk mempertanyakan tentang Islam dan akhirnya memeluk agama rahmah ini dan kemudian menyampaikannya pula kepada orang lain.
3.    Semangat para sahabat Rasulullah saw dan motivasi mereka mencari ilmu, menghafalkan dan menyampaikan kepada orang lain. Kecintaan mereka kepada Rasulullah saw membuat mereka senantiasa memperhatikan tentang semua segi kehidupan Rasul untuk diteladani dan dipraktekkan dalam kehidupan harian.
4.    Ummahatul-mukminin yang menjadi tempat bertanya bagi kaum muslimin terutama para sahabiyah jika mereka malu langsung bertanya kepada Rasulullah saw tentang pelbagai hukum dan sunnah Rasulullah saw. Mereka akan mendapatkan jawaban dari istri-istri Rasulullah yang selalu berkomunikasi dan mempelajari pelbagai hal secara langsung dari Beliau, terutama masalah rumah tangga dan wanita.
5.    Para sahabiyah pula mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam penyebaran sunnah Rasulullah. Mereka senantiasa bertanya bila ada perkara-perkara yang tidak difahami dan diketahui hukumnya, dan mengajarkan kepada muslimah lainnya. Rasulullah juga menitikberatkan pendidikan muslimah dengan menyediakan waktu khusus untuk majelis mereka (lihat Musnad Ahmad hlmn 85 juz 13 hadis ke-7351 dan Fathul Bari jld 1 hlmn206). Sehingga mereka telah menjadi wanit-wanita terpelajar dan menebar teladan untuk ummat, di saat para wanita hanya menjadi budak dunia dan hamba sahaya di Eropa sana.
6.    Pengaruh para da’i dan utusan yang dikirim ke daerah-daerah.Sejak bai’at Aqabah pertama Rasulullah saw telah mulai mengirimkan utusan, iaitu Mus’ab bin Umair untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Medinah. Setelah hijrah terutama saat berlaku perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw mengirimkan da’i-da’i kepada kabilah-kabilah sekitar Medinah dan di pelosok-pelosok negeri untuk mengajarkan hukum dan sistim kehidupan Islam. Rasulullah saw senantiasa mengarahkan setiap utusan untuk berdakwah kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta tidak mempersulit apapun, hendaknya mempermudah dan memberi kabar gembira, sehingga dakwah akan mudah diterima oleh pelbagai kalangan. Di antara contohnya iaitu: wasiat Rasulullah saw kepada Muaz bin Jabal dan Abu Musa al-Anshari ketika keduanya diutus ke Yaman.(lihat sahih Bukhari, juz 3 hlmn 72. pengiriman untusan itu terjadi pada tahun 7 H). Begitu pula nasihat dan motivasi Beliau kepada Ali bin Abi Thalib ketika diutus ke Yaman sebagai qadhi.(Musnad Imam Ahmad, juz 2, hlmn 72, hadis ke-666, melalui isnad sahih.) disamping itu, Rasulullah saw juga mengirimkan utusan kepada raja-raja diantaranya kepada; kaisar Romawi (lihat sirah Ibnu Hisyam juz 4 hlmn 279 dan sahih Muslim juz 3 hlmn 1393 dan 1397, da lihat pula keterangan tentang para utusan kepada raja-raja dan para gubernur secara terperinci dalam kitab al-Mishah al-Mudli’, hlmn 60-114), kepada gubernur Bashrah, gubernur Damaskus (wilayah ekuasaan Helakrius), al-Najasyi (Raja Habsyhah), Kisra (raja Persia) dan al-Munzir bin Sawi (Raja Bahrain). Selain itu Beliau juga menulis surat ke Aman, Yamamah dan daerah-daerah lain. Bagi setiap kaum atau kabilah yang memeluk Islam, Rasulullah saw akan mengangkat seorang gabenor dari mereka dan mengirimkan sahabat untuk mengajarkan Islam kepada mereka.
7.    Fathu’l Makkah yang terjadi setelah Musyrik Qurays melanggar perjanjian Hudaibiyah pada tahuan 8 H, dimana Rasulullah saw menyeru semua kabilah yang telah memeluk Islam umtuk hadir di Medinah pada bulan Ramadhan. Bersama 10.000 mujahid, Beliau berangkat ke Makkah. (lihat sirah Ibnu Hisyam, juz 4 hlmn 17). Setelah berhasil menaklukkan Makkah tampa pertumpahan darah dan menghancurkan berhala-berhala, Rasulullah saw berpidato di depan semua muslimin dan musyrikin. Kemudian semua manusia secara serentak membai’at Rasululllah saw. Peristiwa bersejarah tersebut, disaksikan oleh banyak sahabat dalam jumlah yang tidak terhad, sehingga semua yang hadir saat itu, menyampaikan pidato Rasulullah ke pelbagai kawasan.
8.    Haji wada’ pada bulan Zulhijjah tahun 10 H, juga merupakan perstiwa penting dalam sejarah penyebaran sunnah Rasulullah saw. Beliau menunaikan ibadah haji bersama sekelompok besar sahabat yang berjumlah sekitar 90.000 orang (tedapat perbezaan riwayat tentang jumlah kaum muslimin yang ikut hadir pada haji wada,. Menurut satu riwayat dari Abu Zur’ah, jumlahnya 40.000 orang sahaja. Lihat Talqih Ahl al-Atsar hlmn 27). Ketika wuquf di Arafah, Beliau berpidato dengan tajuk yang lengkap dan mencakup pelbagai persoalan agama. Dan Beliau berwasiat agar sahabat yang hadir, menyampaikan kepada yang tidak hadir.
9.    Setelah penaklukkan Makkah dan haji Wada’, utusan-utusan dari pelbagai kawasan dan kabilah datang ke Medinah untuk membai’at Rasulullah dan bersatu di bawah panji agama Allah. Rasulullah menyambut baik setiap utusan yang datang dan mengajari mereka tentang Islam dan sistim kehidupannya. Sebahagian mereka bermukim di Medinah beberapa hari sebelum kembali ke kaumnya masing-masing untuk menyampaikan ajaran Islam. Sehingga mereka melihat dengan jelas perilaku dan ibadah yang dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah dan mendengar hadis-hadis dari Beliau. Diantara utusan-utusan tersebut adalah: Dhimam bin Tsa’labah, Abdul Qais, utusan Bani Hanifah, Thai, Kindahm Azdasynuah dan utusan raja-raja Himyar. Selain itu ada pula utusan dari kabila Hamdan dan Tujaib, Bani Sa’d, Huzaim dan masih banyak lagi.(lihat Sirah Ibnu Hisyam juz 2 hlmn 221).

repost tulisan lama...

TAHUN BARU HIJRIYAH, MOMENTUM PENINGKATAN TAKWA

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

Perputaran waktu terus bergulir seiring pergantian siang dan malam yang menjadi sunatullah di alam raya ini. Tanpa terasa kita telah sampai lagi ke bulan Muharam, bulan pertama dalam perhitungan kalender hijriyah.
Kedatangan bulan Muharram ini, dapat kita jadikan sebagai salah satu momentum, untuk kembali bertafakur dan bermuhasabah, mengevaluasi hari-hari yang telah berlalu dan merancang target-target baru untuk hari mendatang.

Karena, semakin lama kita menghabiskan umur kita di dunia, berarti semakin dekat dengan kehidupan yang sesungguhnya, yaitu akhirat nan abadi. Sebagaimana firman Allah swt: Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah senda gurau dan permainan belaka; dan sesungguhnya negeri akhirat itu ialah kehidupan yang sebenar-benarnya; kalaulah mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 64).
Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia dengan segala gemerlapan dan keindahannya, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kekekalan kehidupan akhirat. Dunia hanyalah panggung sandiwara dimana setiap manusia memainkan peran masing-masing untuk melihat siapa yang terbaik di antara mereka. Dan hari pembalasan itu adalah di akhirat sana, ketika setiap diri akan menerima apa yang pernah mereka usahakan di dunia.
Mari kita renungkan ungkapan Rasulullah saw suri teladan kita, ketika suatu hari beliau bangun dari tempat pembaringannya, dan Abdullah bin Mas’ud melihat bekas jalur-jalur tikar di punggungnya. Ini kerana tikar alas tidur Rasulullah saw dibuat dari daun kurma kasar. Timbullah rasa kasihan di hati Abdullah bin Mas’ud, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah seandainya engkau perintah aku untuk mencari tikar yang lembut untukmu, maka aku akan berusaha mendapatkannya”.
Tetapi Rasulullah saw bersabda: “Bagiku berada di dunia ini ibarat seorang yang berjalan di tengah panas, lalu singgah sebentar berteduh di bawah sepohon kayu yang rindang, setelah istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah, maka dia beranjak meninggalkan pohon rindang itu dan meneruskan perjalanan”. (HR. Tirmizi)
Demikianlah Rasulullah mengumpamakan dunia ini, bahwa disini kita hanya sekedar singgah sebentar, untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang teramat sangat panjang di akhirat.Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga menggambarkan, bahwa lamanyaperjalanan hidup yang kita lalui ibarat es yang mencair. Sungguh sangat singkat bila dibandingkan dengan keabadian yang akan kita hadapi sesudahnya. Maka sangatlah merugi apabila perjalanan hidup yang singkat ini justru berlalu dengan kesia-siaan belaka. Tanpa harga, tanpa makna, tanpa cita-cita. Hingga tiada bekal memadai untuk mengarungi kehidupan hakiki di akhirat nanti.
Lalu bekal apa yang mesti kita persiapkan di dunia untuk menuju kehidupan abadi tersebut? Dengan hartakah? Pangkatkah? Gelarkah? Atau keturunankah? Tentu saja bukan, sebab Allah Maha Kaya, Maha Berkuasa, Maha Suci lagi Maha Tinggi.
Allah telah mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:
Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 197)
Dan Allah Swt berfirman dalam surat Al-Hasyr:
Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)
Bekal yang harus kita persiapkan tiada lain dan tiada bukan hanyalah takwa, karena takwa adalah sebaik-baik bekal dan persiapan. Sungguh naïf jika seorang tidak menyiapkan bekal apa-apa padahal dia sadar betapa panjang dan penuh rintangannya perjalanan yang akan dia hadapi di akhirat nanti. Hendaknya, dalam kehidupan yang sekejap ini, kita telah menyiapkan bekal ketakwaan yang cukup sehingga kehidupan akhirat menjadi lebih baik. Sebagaimana firman Allah swt:
”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)
Rasulullah Saw dalam sabdanya juga banyak mewasiatkan ketakwaan kepada para sahabat dan umatnya. Di antaranya adalah dalam khutbah haji wada’, Abu Umamah al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bertakwalah kepada Allah Tuhanmu, shalatlah lima waktu, berpuasalah pada bulanmu, bayarlah zakat hartamu, taatilah pemimpinmu, maka kamu akan masuk surga Tuhanmu.” (HR. At-Tirmidzi 1/190)
Mu’az bin Jabal juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, timpalilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi No. 1987, HR. Ahmad 5/153 dan al-Hakim 1/54).
Demikian pentingnya nilai ketakwaan agar wujud dalam diri seorang mukmin, sehingga Allah dan Rasul-Nya sangat menekankan hal tersebut dan menjadikannya sebagai syarat utama keselamatan di akhirat nanti. Lantas, bagaimanakah hakikat takwa itu yang sesungguhnya?
Takwa secara bahasa artinya adalah al-shiyanah yaitu memelihara, al-hadzru yaitu hati-hatidan al-wiqayah waspada dan menjaga.
Sedangkan secara istilah takwa berarti menjaga diri dari murka dan azab Allah dengan tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Para sahabat dan ulama terdahulu, telah memberikan pengertian yang cukup jelas tentang hakikat takwa dalam jiwa seorang mukmin. Diantaranya, dalam kitab Fathul Qadir karya al-Syaukani dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab pernah ditanya tentang takwa, beliau menjawab, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang banyak bertaburan duri?”. “Ya pernah” jawab si penanya. “Maka apa yang kamu lakukan?” Umar kembali bertanya. Penanya menjawab, “Saya akan berjalan dengan berhati-hati”. Lantas Umar berkata, “Seperti itulah takwa”.
Hasan al-Basri berkata: “takwa adalah berhati-hati terhadap yang diharamkan Allah dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya”. Dan Mujahid berkata: “Takwa kepada Allah artinya, Allah harus ditaati dan pantang dimaksiati, selalu diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud sebenar-benarnya takwa adalah selalu taat kepada Allah dan berusaha untuk tidak berbuat maksiat, selalu berdzikir kepada Allah dan segera bertaubat, serta selalu bersyukur atas segala anugrah Allah. Sayyid Sabiqdalam kitabnya “Islamuna” menerangkan bahwa takwa bermuatan keyakinan (akidah), pengabdian (ibadah), akhlak (adab) dan berbagai kebajikan (al-bir). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa orang yang berhak menyandang sebutan “muttaqin” hanyalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi semua hal-hal yang syubhatserta berani berjihad di jalan Allah. Sedangkan menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—takwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua halangan dalam kehidupan.
Jadi, esensi takwa adalah menghadirkan keagungan Allah swt di dalam hati dan merasakan kebesaran dan keMahaan-Nya, kemudian merasa takut terhadap murka-Nya sehingga berusaha sedaya upaya menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, takwa bukan sekedar menjauhi dosa-dosa besar saja, tapi mencakup semua penyelewengan dan penyimpangan meski itu hanya kecil. Layaknya pendaki gunung yang tinggi, mereka tidak terlalu takut dengan ancaman batu-batu besar, karena batu-batu besar mudah dihindari. Mereka jauh lebih takut kepada kerikil-kerikil kecil yang masuk tanpa disadari ke dalam sepatu, sehingga kaki akan menjadi luka dan menyebabkan cedera parah di ketinggian gunung yang bersuhu rendah. Begitu pula seorang yang berusaha untuk menggapai derjat takwa, ia bukan hanya takut dengan dosa-dosa besar, namun ia lebih takut dengan dosa-dosa kecil yang kemudian berpeluang menggelincirkannya pada kemudharatan.
Di dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan gambaran tentang indikasi ketakwaan dalam diri seorang mukmin, agar kita mengetahui ciri-cirinya sehingga kita dapat mengevaluasi dan mengukur diri sendiri, sudahkah kita berada dalam derjat muttaqin atau minimal berusaha menggapainya. Antaranya indikasinya adalah:
Beriman kepada perkara yang ghaib (QS Al-Baqarah: 3)
Iman kepada yang ghaib mencakup keimanan terhadap semua berita yang disampaikan Allah dalam al-Quran dan melalui lisan Rasul-Nya, tentang hari kiamat dan kehidupan akhirat dengan segala fase-fasenya. Keyakinan akan adanya kiamat dan hari akhirat inilah yang menjadikan orang yang bertakwa senantiasa menjaga dirinya di dunia, agar selamat di akhirat kelak.
Menegakkan shalat (QS Al-Baqarah : 3 dan 177)
Shalat adalah sarana untuk mengingat Allah secara kontinyu, yang menjadi pembeda antara orang mukmin dengan kafir. Allah telah menetapkan waktu-waktunya bagi kita, dan memerintahkan untuk tidak melalaikannya. Menegakkan shalat bagi orang yang bertakwa tidaklah semata-mata demi menggugurkan kewajiban, akan tetapi lebih dari itu, ia merupakan komunikasi dengan Allah yang bersumber dari kekhusyukan, yang berimplikasi tercegahnya diri dari perbuatan keji dan munkar.
Mengeluarkan zakat dan infaq (QS Al-Baqarah : 3, 177; Ali Imran : 134; Al-Zariyat : 19)
Bagi orang yang bertakwa, anugrah harta yang Allah berikan adalah salah satu sarana untuk semakin dekat dengan-Nya. Ia sadar betul bahwa dalam harta yang dititipkan kepadanya, terdapat hak-hak orang lain, sehingga ia tidak akan merasa berat untuk menginfakkan sebagian hartanya baik ketika rizkinya lapang maupun ketika sempit.
Banyak mengingat Allah dan gemar bertaubat (QS Ali Imran : 135; QS Al-Zariyat: 17, 18)
Orang yang bertakwa pasti banyak mengingat Allah di setiap waktu, dalam segala keadaan. Ia mengingat Allah dengan segenap anggota badannya: dengan hati, lisan dan gerak-gerik organ tubuhnya. Ia juga senantiasa memperbaharui taubatnya dan memperbanyak istighfar terutama di waktu sahur/sebelum subuh, sehingga ia tidak berlarut-larut dalam kesalahan.
Menunaikan janji dan amanah (QS Al-Baqarah : 177)
Orang yang bertakwa jauh dari sifat melanggar janji dan mengkhianati amanah, yang merupakan sifat orang munafik. Adapun janji dan amanah yang paling agung adalah kesediaan dan kerelaan untuk beribadah kepada Allah, Rabb semesta alam. Ia juga selalu berusaha untuk menepati janji terhadap sesama manusia serta menunaikan amanah yang diembankan kepadanya.
Bersikap adil dalam segala urusan (QS Al-Maidah : 8)
Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak mengurangi proporsi satu hak dengan melebihkan yang lainnya. Termasuk adil terhadap diri sendiri, dengan memberikan hak jasmani dan rohani sebagaimana mestinya. Keadilan juga harus diterapkan kepada semua manusia, sehingga kebencian pada seseorang atau suatu kaum tidak menghalangi berlaku adil kepadanya.
Bersabar terhadap berbagai musibah yang menimpa dirinya (QS Al-Baqarah : 177)
Orang yang bertakwa sadar bahwa semua yang ada di dunia adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Ia tidak akan hanyut dalam kesedihan jika diuji oleh Allah dengan suatu musibah, namun menerima dengan lapang dada sembari menguak hikmah-hikmah Allah dibalik semua peristiwa. Malah ia menjadikan ujian sebagai batu loncatan meningkatkan kecintaan kepada Allah, Penggenggam alam semesta ini.
Pandai menahan amarah dan suka memaafkan (QS Al-Baqarah : 237; Ali Imran : 134)
Pengendalian diri dan hawa nafsunya adalah ciri orang bertakwa. Ia tidak mudah terjerat hasutan setan yang selalu mengobarkan amarah dan kebencian dalam jiwa bani Adam. Disamping itu, orang yang bertakwa juga suka memberikan maaf kepada orang lain yang berbuat kesalahan kepadanya, bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf kepadanya.
Berdasarkan beberapa ciri di atas, jelaslah bahwa orang yang bertakwa selalu berusaha sungguh-sungguh berada dalam ketaatan kepada Allah secara menyeluruh, baik dalam perkara wajib maupun sunnah, berupaya meninggalkan kemaksiatan serta menghindarkan diri dari perkara yang tidak bermanfaat karena khawatir terjerumus ke dalam dosa. Semua inilah yang harus kita tingkatkan di hari-hari mendatang, agar waktu yang masih tersisa dalam setiap hembusan nafas kita, menjadi bekal berharga untuk mengarungi kehidupan abadi di akhirat nanti.
Namun yang tidak kalah penting adalah, terdapat banyak sekali hadiah yang dijanjikan Allah dalam Al Qur’an bagi orang-orang yang bertakwa, bukan hanya keselamatan di akhirat namun juga kepalangan hidup di dunia. Diantaranya, adalah:
1.      Mendapatkan keselamatan dari bencana dan mendapatkan rezeki dari tepat yang tak terduga-duga. Inilah yang dijanjikan dalam firman Allah:
Artinya: Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan Siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS Al-Thalaq 2-3)
1.      Allah memberikan furqan yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil.Sebagaimana Allah janjikan dalam firman-Nya:
Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS Al-Anfal 29)
1.      Mendapat kecintaan Allah, seperti dijelaskan dalam firman-Nya:
Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Taubah 7)
1.      Menjadi yang termulia disisi Allah. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:
Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat 13)
1.      Takwa menjadi sebab kesuksesan dan keberuntungan.  Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
Artinya: Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan.(QS Al-Nur 52)
1.      Menjadi wali Allah dengan dasar firman Allah:
Artinya: Sungguh wali-waliNya hanyalah orang-orang yang bertakwa; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Al-Anfal 34)
1.      Allah menjadi wali/pelindung orang yang bertakwa. Sebagaimana difirmankan Allah:
Artinya: Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Jatsiyah 19)
1.      Dijaga dari para musuhnya, sebagaimana difirmankan Allah:
Artinya: Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali-Imran: 120)
1.      Mendapatkan bantuan dari Allah, seperti dijelaskan dalam firmanNya:
Artinya: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Al-Nahl 128)
1.      Takwa menjadi sebab mendapatkan berkah, seperti dalam janji Allah pada firmanNya:
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS Al-A’raf 96)
1.      Amalannya diterima Allah, sebagaimana dalam firman Allah:
Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah 27)
1.      Selamat dari adzab Allah di neraka. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:
Artinya: Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu; hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan; kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS Maryam 71-72)
1.      Tidak merasa takut, berduka dan selalu bahagia didunia dan akherat serta mendapatkan kemenangan agung. Berdasarkan firman Allah:
Artinya: Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS Yunus 62-64)
1.      Dimudahkan urusannya didunia dan akherat, sebab Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya:
Artinya: Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Al-Thalaq 4)
1.      Dihapuskan dosa dan kesalahannya sebagai anugerah Allah atas ketakwaannya. Allah berfirman:
Artinya: Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (QS Al-Thalaq 5)
Dan firmanNya: Artinya: Dan Sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. (QS Al-Maidah 65)
1.      Mendapatkan syurga-syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:
Artinya: Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.(QS  Ali Imran 198)
Dan firmanNya: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi, di sisi Tuhan yang berkuasa. (QS Al-Qamar 54-55)
Demikianlah keistimewaan yang dikhususkan bagi orang yang bertakwa kepada Allah. Semoga kita mampu menempa diri meskipun letih dan tertatih, untuk meningkatkan kembali ketakwaan dalam diri. Dan perhitungan tahun baru ini, dapat menjadi ajang untuk membuka lembaran baru dalam sejarah hidup kita yang singkat ini, dan membangkitkan kembali semangat perjuangan memperbaiki diri. Dengan memulai hari baru, juga bisa menjadi langkah awal ketaatan yang menyeluruh dalan setiap perjalanan hidup kita ke depan. Karna, andai takwa itu tidak bersemayam dalam jiwa sedikitpun, lalu bekal apa lagi yang bisa kita andalkan menghadap Allah di akhir nanti.Wa’lLahu a’lam bi al-shawab.

*Tulisan ini pernah dimuat di buletin “Yasmin” FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia) tahun 2009