Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2018

Kajian Muslimah DEMA STAIN Gajah Putih; Pemberdayaan Perempuan dalam Islam


 (Bid. Pemberdayaan Perempuan DEMA STAIN GPA)

Pada  hari Rabu, 11 April 2018, pukul 11:00 WIB s/d selesai bertempat di Kampus Induk STAIN GAjah Putih Takengon DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) STAIN  menggelar diskusi muslimah perdan . Acara yang digawangi oleh Bidang PEMBERDAYAAN PEREMPUAN ini menampilkan pemateri: ibu Dwi Sukmanila Sayska M.I.S, dosen hadis dan ilmu hadis STAIN GAjah Putih Takengon. Tema acara sesuai dengan buku yang dibedah dan didiskusikan yaitu "Menggugat Sejarah Perempuan Mewujudkan Idealisme Gender Sesuai Tuntutan Islam." Acara ini dihadiri para mahasiswa lintas jurusan dan prodi, dan ditargetkan akan dilaksanakan berkesinambungan sebagai agenda rutin Bidang Pemberdayaan Perempuan DEMA STAIN Gajah Putih Takengon.

Sabtu, 18 Juni 2016

MEMBINA SAKINAH, MAWADDAH DAN RAHMAH DALAM KELUARGA BERDASARKAN AL-QURAN DAN SUNNAH

MEMBINA SAKINAH, MAWADDAH DAN RAHMAH DALAM KELUARGA
BERDASARKAN AL-QURAN DAN SUNNAH

oleh: Dwi Sukmanila Sayska

Allah berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 21: Dan di antara tanda-tanda Yang membuktikan kekuasaannya dan rahmatNya, Bahwa ia menciptakan untuk kamu (Wahai kaum lelaki), isteri-isteri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu tenang dan hidup mesra dengannya, dan dijadikannya di antara kamu (suami isteri) perasaan kasih sayang dan belas kasihan. Sesungguhnya Yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan (yang menimbulkan kesedaran) bagi orang-orang Yang berfikir.

Ayat ini menjelaskan bahwa peran seorang istri dalam rumah tangga adalah sebagai sumber sakinah/kedamaian keluarga. Dalam jalinan perkawinan Allah juga mencurahkan cinta dan kasih sayang antara suami istir. Namun apakah semua itu sudah dapat kita wujudkan dalam rumah tangga kita masing-masing? Sudahkan kita mampu menjaddi sumber sakinah? Sudahkah kita mampu mencurahkan ccinta dan kasih sayang tanpa pamrih dalam keluarga?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu adalanya indikator atau standar. Bagaimana sesungguhnya yang dinamakan sebagai seorang istri shalehah dan ibu teladan bagi anak-anak. Sehingga kita bisa menilai, sejauh mana diri kita sudah memenuhi standar tersebut, dan berupaya meningkatkan amal kita agar mampu menjadi istri dan ibu yang menjadi sumber kedamaian dan cinta kasihd alam keluarga.

1.      ISTRI YANG DIRIDHAI SUAMINYA
·         Al-Quran:
Dalam surat at-Tahrim ayat 10 Allah jelaskan contoh istri-istri durhaka adalah istri Nabi Nuh dan Nabi Luth, yang membangkang dan mengkhianati kepercayaan suami. Sedangkan istri fir’aun (at-Tahrim 11) adalah wanita terbaik yang Allah bangunkan untuknya istana di syurga, karena ia tidak tunduk pada suami dalam kemaksiatan dan kedurhakaan pada Allah.

·         Hadis-hadis Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam:
1.      Wanita akan masuk syurga dari pintu manapun yang ia inginkan jika melakukan: shalat 5 waktu, puasa ramadhan, menjaga kehormatan diri dan taat pada suami
2.      Istri wajib memenuhi pangggilan suami ke tempat tidur, jika menolak dengan sombong dan kasar sehingga suami marah, maka akan dilaknat malaikat sampai pagi.
3.      Wanita shalehah itu penyayang dan selalu berusaha mencari ridha suami baik ketika dizalimi maupun dia zalim
4.      Tidak boleh puasa sunah tanpa izin jika suami ada di rumah, dan tidak keluar rumah tanpa izin.
5.      Hak suami terhadap istiri: patuh dan taat dan tidak boleh menerima tamu yang tidak disukai suami

2.      IBU YANG MENDIDIK PUTRA-PUTRINYA
Al-Qur’an:
·         QS. At-Tahrim 9: Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka neraka
·         QS. An-Nisa 9: takutlah kamu jika meninggalkan generasi yang lemah
·         QS. Luqman 13-19: Pengajaran Lukman al-Hakim pada anaknya:
·         Akidah: Jangan mempersekutukan Allah
·         Ibadah: Dirikan shalat, melakukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
·         Akhlak: Sabar terhadap musibah, jangan berjalan dengan angkuh, jangan meninggikan suara bila berbicara.

Hadis-Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam:
·         Mendidik dengan cinta:
·   Rasulullah tidak pernah memahari anak kecil, bahkan tidak pernah mengatakan kenapa kamu lakukan ini? Atau kenapa kamu tidak lakukan itu?
·   Rasulullah selalu mencium anak2 dan cucunya
·   Rasulullah selalu memulai salam pada anak2
·   Rasulullah mengajari mereka dengan lembut, tidak langsung memarah jika salah tapi menasehati bagaimana seharusnya bersikap
·   Tidak sempurna iman jika tidak menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil
·         Pembiasaan ibadah dimulai sejak dini: biasakan shalat sejak umur 7 tahun dan pukul jika masih tidak mau shalat di umur 10 tahun dan pisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.
·         Contohkan akhlak yang baik; 5 S, libatkan dalam pertemuan orang dewasa dan ajarkan adab-adab serta etika.
·         Jangan lupakan fisik: beri asupan gizi cukup, latih ketangkasan fisik: berkuda, memanah, berenang.
·         Bimbing agar anak mencintai ilmu: menuntut ilmu wajib, menempuh jalan menuntut ilmu akan Allah mudahkan jalan ke syurga.

Dengan memahami standar dan tuntunan Al-Quran dan sunnah terhadap para wanita sebagai istri dan ibu ini, semoga kita akan mampu mewujudkan keluarga yang damai dan penuh cinta, rumah tangga ibarat syurga di dunia. Semoga kita mampu menjadi istri yang bisa membawa kedamaian bagi semua anggota keluarga, dan selalu berupaya memberikan cinta lillahi ta’ala tanpa mengharap balasan manusia.


Wallahu a’lam bisshawab...

Minggu, 11 Oktober 2015

TANGGUNGJAWAB BUNDO KANDUANG MENDIDIK REMAJA MUSLIM

TANGGUNGJAWAB BUNDO KANDUANG MENDIDIK REMAJA MUSLIM*

Oleh: Dwi Sukmanila Sayska, MIS

Allah berfirman: Kalian umat terbaik yang Allah utus untuk sekalian manusia, kalian beramar ma’ruf nahi munkar dan beriman pada Allah...

Jika ingin menjadi umat terbaik yang bisa membangun generasi terbaik maka haruslah beriman dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Bundo kanduang – limapapeh / tiang rumah gadang: punya peran strategis untuk amar ma’ruf nahi munkar dan menanamkan keimanan ini. Baik di lingkungan dalam keluarga, kaum dn masyarakat karena bundo kanduang diberi amanah di bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan pemerintahan dalam budaya Minangkabau. Di zaman dahulu bundo kanduang telah membuktikan pengaruhnya yang besar dalam kemajuan masyarakat.

Jika Aceh punya Cut Nyak Dien dan Cut Meutia, dan Jawa punya Kartini, maka Minang juga punya srikandi-srikandi pejuang di masanya:
1.      Siti Manggopoh (1880-1960)=> berjuang angkat senjata melawan Belanda atas kebijakan pajak/  belasting yang memberatkan masyarakat di Agam.
2.      Rohana Kudus (1884 – 1972) =>mendirikan Kerajinan Amai Setia untuk membangun ekonomi masyarakat, dan tahun 1912 mendirikan surat kabar pertana khusus perempuan: Sunting Melayu
3.      Rahmah El-Yunussiyah (1990-1969) => mendirikan sekolah khusus perempuan Diniyyah Puteri tahun 1923 dan menyampaikan petisi ke pemerintah Jepang untuk tidak mempekerjakan wanita Minang sebagai pelacur pada masa pendudukan (1945-1948). Tahun 1960 Syekh Al-Azhar Mesir berkunjung ke Padang Panjang studi banding Diniyah Putri karena di Arab pun belum ada sekolah khusus perempuan, dan dibukalah Al-Azhar Putri 1969.
4.      Rasuna Said (1910 – 1965) aktif di partai politik memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, mejadi anggota dewan Perwakilan Sumatera dan mendirikan majalah Menara Puteri.

Mereka telah berjuang di masanya, menjawab tantangan dan problem kala itu dengan membangun generasi. Maka tugas kita sekaranglah untuk melanjutkan estafet itu, meskipun harus menghadapi masalah yang jauh berbeda karena kecanggihan teknologi sehingga menciptakan dunia maya yang tanpa batas, menyebarkan informasi dan gaya hidup barat dengan begitu cepat dan tidak terdeteksi di dunia nyata. Dewasa ini masalah generasi muda yang harus menjadi perhatian serius Bundo Kanduang setidaknya ada 3: akhlak, narkoba dan pergaulan bebas.

Dalam Al-Quran Allah bahkan juga telah mewasiatkan 15 abad yang lalu dalam surat At-Tahrim ayat 6: Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Dalam surat-surat fase Makkah juga digambarkan betapa dahsyatnya perhitungan Allah di hari kiamat, sehingga seorang anak akan lari dari saudaranya,  ibunya dan bapaknya karena takut dimintai tanggungjawab, seorang suami akan lari dari istrinya, dan sahabat dekat akan saling bertikai di hadapan Allah. Tidak bis asaling bersekongkol untuk menghindar dair azab Allah yang sangat dahsyat. Betapa berat pertanggungjawaban yang harus kita hadapi di hadapan Allah nanti. Maka sudahkah kita melakukan hal-hal terbaik agar semua pertanyaan Allah kelak tentang keluarga kita, dapat dipertanggungjawabkan dengan semestinya?

Maka untuk menjadikan anak-anak kita muslim yang kuat, mari kita kembali ke Al-Quran, bagaimana seharusnya mendidik remaja putra dan putri kita. Allah telah mengkhususkan sebuah surat dalam al-Quran sesuai dengan nama seorang tokoh yang shaleh di zaman dahulu, ahli ibadah dan ahli ilmu yaitu Luqmanul Hakim. Rasulullah pun bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah, maka ortunya yang menjadikannya Yahudi, Nashrani dan Majusi.

Mendidik remaja tidak sama seperti mendidik anak yang belum baligh. Remaja masa awal-awla dewasa, punya banyak perubahan fisik maupun mental. Lebih pemalu dan ragu-ragu, takut akan masa depan, sangat memikirkan pendapat orang lain tentang dirinya. Jika orang tua tidak mendekati, maka ia akan semakin jauh dan

Penanaman nilai seorang Lukman kepada anaknya hendaknya menjadi contoh teladan bagi kita berdasarkan surat Luqman ayat 11-19:
1.      Kuatkan Iman pada anak
a.      Hindarkan dari kemusyrikan: Allah tak ampuni dosa syirik dan ampuni dosa lain sebanyak apapun.
b.      Muqarabatullah: Allah Maha Melihat, Mendengar dna Tahu apa yang terlintas di hati sekalipun. Apa yang ada di langit dan di bumi semua Allah awasi! Pupuk rasa takut akan azab dan harap akan rahmat.
2.      Tanamkan bakti pada orang tua
a.      Perjuangan ortu melahirkan menyusui, merawat dan membesarkan
b.      Ridha Allah ada pada ridha orang tua. Tapi jangan jadi ortu durhaka yang menelantarkan anak-anaknya.
c.       Doa anak = Allah sayangi ortu mereka sebagaimana ortu menyayangi mereka waktu kecil. Sudahkah kita sempurnakan kasih sayang pada anak-anak kita?
3.      Didik anak beribadah sejak dini
a.      Shalat: ajarkan dan biasakan sejak umur 7 tahun, pukul jika tidak mau di umur 10 tahun. Rasulullah juga bersabda: Beda mukmin dan kafir adalah shalat. Dalam al-Quran: irikanlah shalat karena shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Maka shalat menjadi benteng agar mereka kuat menghadapi problematika di zamannya.
b.      Membaca Al-Quran: Al-Quran adalah obat/penawar bagi penyakit dalam hati. Ketahuilah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Zikir paling utama adalah membaca Al-Quran. Rasulullah bersabda: Orang terbaik adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya. Di hadis lain: Bacalah Al-Quran karena Al-Quran jadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat. Hadis: Org yang mambaca al-Quran dan mengamalkannya kelak di akhirat kedua ortunya diberi mahkota yang bersinar  lebih baik dari matahari di dunia.
4.      Biasakan akhlak mulia
a.      Sabar. Minta tolonglah pada Allah dengan sabar dan shalat.
b.      Jangan sombong, kamu tak dapat setinggi langit dan tak dapat menembus bumi. Sombong adalah selendang Allah, yang mengambilnya tidak akan mencium bau syurga.
c.       Berjalan dan berbicara dengan sederhana.
d.      Jauh dari sarana menuju zina: menundukkan panadangan mata, menutup aurat dengan sempurna dan bergaul dengan lawan jenis sesuai syariat dan norma.

Dengan 4 poin ini kita bisa membentuk karakter anak menjadi muslim yang tangguh, tidak terpengaruh budaya barat dan pergaulan buruk dimanapun dan kapanpun dia berada. Namun yang paling penting diingat bahwa mendidik remaja berbeda dengan mendidik anak-anak. Imam Ali pernah berkata mendidika anak 0-7 perlakukan bak raja. 7-14 bagai tawanan, dan 14-21 tahun jadilah sahabat.

Kita tutup dengan kisah menarik zaman Rasulullah ketika seorang pemuda minta diberi dispensasi untuk tetap berzina karena dia tidak mampu menahan hawa nafsunya. Apakah Rasulullah langsung murka dan mengusirnya? Tidak! Rasulullah mencontohkan bagaimana cara menghadapi kenakalan remaja, yaitu bicara dari hati ke hati layaknya sahabat. Rasulullah tanyakan padanya: apakah engkau redha jika zina itu dilakukan terhadap saudara perempuanmua? Dia menjawan tidak. Terhadap bibimu? Dia jawab tidak. Terhadap ibumu? Dia jawab tidak. Maka sambil menangis dia mengakui kesalahannya dan minta didoakan oleh Rasulullah agar dia bisa mengekang nafsunya, lalu Rasulullah doakan sehingga dia tidak lagi pernah berzina.

Betapa indah teladan Rasulullah ini jika kita praktekkan juga dalam mengahadapi remaja kita sekarang ini.

*Ringkasan materi yang disampaikan pada kajian Bundo Kanduang Minang Saiyo Takengon.