Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2018

Laboratorium PAI dan DEMA STAIN Gajah Putih Gelar Musabaqah Tahfidz Quran

Pemenang bersama para Waka , Kasubag, Kajur & Lab. PAI STAIN
Takengon, Kamis 31 Mei 2018

Menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1439 H, Laboratorium PAI STAIN Gajah Putih dan DEMA STAIN Gajah Putih Takengon, menyelenggarakan kegiatan musabaqah tahfidz Alquran yang selama 2 hari bertutut-turut Rabu-Kamis / 30-31 Mei 2018. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar  53 mahasiswa dari lintas prodi dan berbagai tingkatan semester.
peserta Musabaqah Hifzil Quran STAIN GPA
Kegiatan Musabaqoh Tahfidz Alquran ini diselenggarakan untuk mengeksplorasi kemampuan positif yang dimiliki oleh mahasiswa STAIN Gajah Putih terutama dalam bidang Alquran. 
"Tenyata setelah di eksplorasi STAIN Gajah Putih memiliki puluhan mahasiswa yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menghafal Alquran. Melalui kegiatan ini kita berharap STAIN Gajah Putih menjadi Kiblat  bagi pembinaan Alquran di kawasan tengah Aceh, bahkan bukan tidak mungkin menjadi salah satu Kiblat di seluruh provinsi Aceh. Kegiatan ini mempertandingkan cabang menghafal Alquran 2 dan 1 juz. Untuk tahun mendatang level pertandingan akan kita tingkatkan menjadi 2 dan 3 juz. Melalui kegiatan ini kita berharap masyarakat dataran tinggi Gayo bangga memiliki kampus STAIN Gajah Putih" ujar Ketua LAB. PAI Bapak Ruri Amanda,MA.
Kemudian disambung pula oleh Rasyidin selaku ketua panitia, "Mudah-mudahan melalui kegiatan ini mahasiswa STAIN Gajah Putih bisa termotivasi dan lebih mendekatkan diri lagi kepada Alquran" tungkasnya. 
Setelah melewati babak penyisihan dengan diuji untuk menyambung ayat, menyambung surat, estafet ayat dan bacaan surat favorit, dewan juri memutuskan 6 peserta cabang 1 juz dan 3 peserta cabang 2 juz yang akan tampil di babak final. Para peserta, panitia dan penonton menikmati dengan khusyuk indahnya lantunan bacaan hafalan Alquran dari para pemuncak yang berlaga di babak final ini. Sesi terakhir adalah penutupan acara dan pengumuman pemenang yang juga dihadiri oleh para dosen dan jajaran petinggi STAIN Gajah Putih Takengon, yaitu Waka I, Waka II , Waka III, Ka. AAKU, Kasubag Perencanaan, Kasubag Akademik, Ka. P2M, Kajur Tarbiyah, Kajur Syariah dan Kajur Dakwah/Ushuluddin. Berikut para pemenang dari kegiatan ini beserta hadiah yang didapatkan:
hadiah dari para donatur baik dari dalam kampus STAIN maupun dari luar
CABANG 2 JUZ
Juara 1-Zainal Abidin (IAT/6), hadiah: Piala, Mushaf Utsmani Alquran, buku zikir & uang tunai 1 juta
Juara 2-Maya Savira (PBA/8), hadiah: Piala, Mushaf Utsmani Alquran, buku zikir & uang tunai 800 ribu
Juara 3-Reni Puspita Sari (IAT/4), hadiah: Piala, Mushaf Utsmani Alquran, buku zikir & uang tunai 600 ribu
Harapan 1-Diella Almira (PBA/2), hadiah: Mushaf Utsmani Alquran, buku zikir & uang tunai 500 ribu
Harapan 2-Herawati (TBI/6), hadiah:Mushaf Utsmani Alquran, buku zikir & uang tunai 450 ribu
Harapan 3-Ahmad Yuliandi (PAI/8), Hadiah: Mushaf Utsmani Alquran, buku zikir & uang tunai 400 ribu
CABANG 1 JUZ
Juara 1-Suryadi (EKSYA/6), Hadiah: Piala, Mushaf Utsmani Alquran, buku zikir dan uang tunai 500 ribu
Juara 2-Saniara (PAI/2), Hadiah: Piala, Mushaf Utsmani Alquran, buku zikir dan uang tunai 400 ribu
Juara 3-Lisa Marlina (TBI/8), Hadiah: Piala, Mushaf Utsmani Alquran, buku zikir dan uang tunai 300 ribu
Harapan 1-Syahri Gunawan (IAT/2), Hadiah: Mushaf Utsmani, buku zikir dan uang tunai 200 ribu
Harapan 2-Fitri Arranti (TMA/8), Hadiah: Mushaf Utsmani, buku zikir dan uang tunai 150 ribu
Harapan 3-Sri Reduk (TMA/6), Hadiah: Mushaf Utsmani, buku zikir dan uang tunai 100 ribu
Selain itu, seluruh peserta juga mendapatkan masing-masing mushaf utsmani Alquran dan buku zikir pagi dan petang yang merupakan wakaf dari donatur baik dari civitas akademika STAIN maupun donatur dari luar yang juga sangat mendukung kegiatan ini. 

Seluruh panitia yang terdiri dari pengurus Lab. PAI STAIN Gajah Putih: Bpk. Ruri  Amanda, MA.,  Ibu Dwi Sukmanila Sayska, M.I.S., Bpk. Irhas, MA., Bpk. Sodikin, MA., Ibu Yulizar, MA., dan Bpk. Awal Kurnia Putra, M.Tpd., beserta seluruh tim DEMA STAIN Gajah Putih mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung dan mensukseskan kegiatan ini.  Ke depan diagendakan acara ini akan diselenggarakan setiap tahun di bulan Ramadhan. Semoga acara perdana ini menjadi sunnah hasanah yang akan terus berlanjut dan berkembang di kampus STAIN Gajah Putih untuk melejitkan potensi para penghafal Alquran yang akan menjadi calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang.

Sabtu, 28 Maret 2015


RUTINITAS HARIAN IBADAH RAMADHAN 

Sepertiga malam Sampai Subuh

Ø  Upayakan  bangun di sepertiga malam terakhir yang istimewa. Laksanakan Qiyamullail meski hanya dua rakaat! Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al-Insan:26) “Sebaik-baik shalat setelah fardhu adalah shalat malam. ” (HR.Muslim). “Sedekah dan shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api” (Hadist riwayat At-Tirmidzi) “Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).
Ø Rasulullah menekankan“Carilahlailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”(HR. Bukhari dan Muslim). Barang siapa yang beribadah pada malam ini dengan penuh keimanan dan mengharapkanpahala dari Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh-Nya(HR. Bukhari dan Muslim).
Ø   “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezki kepadamu”(QS.Thaha:132)
Ø  “Barsahurlah, sebab sesungguhnya pada makan sahur itu ada berkahnya”(HR.Tirmidzi)
Ø Ikhlas puasa. “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ø  Banyak beristghfar “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka momohon ampun (kepada Allah)” (Adz-Dzaariyaat: 17-18). “Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. ” (HR. Abu Daud)
Ø Banyak berdo’a.“Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghaafir: 60) “Allah Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam sewaktu malam tinggal sepertiga bagian akhir, lantas berfirman, ‘Barangsiapa berdo’a akan Aku kabulkan. Barangsiapa yang memohon pasti Aku perkenankan. Barangsiapa minta ampun niscaya Aku mengampuninya, hingga terbit fajar. ” (HR. Muslim) “Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazar)
Ø Membaca Al-Quran. Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur’an baginya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat.Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari”, ِAl-Qur’ an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur dimalam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.”Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat.” (HR Ahmad). “Orang yang membaca sebuah huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an), maka ia memperoleh suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf.” (HR Imam Tirmidzi)

Setelah Shalat Subuh

Ø  Berusahalah tidak tidur hingga terbit matahari. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,”Barang siapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian tetap duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka ia seakan-akan memperoleh pahala haji dan umrah (HR.Tirmizi, dishahihkan Al-Albani). “Barangsiapa yang mengucapkan “Subhaanallaahi wabihamdihi” seratus kali setiap pagi dan sore, maka tidak akan datang pada hari kiamat orang yang bisa membawa (pahala) lebih baik daripada apa yang dia bawa, kecuali seseorang yang mengucapkan seperti apa yang dia ucapkan, atau lebih” (HR. Muslim)
Ø Bertaubat dan berdoa. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orangyang beriman supaya kamu beruntung. (An-Nuur: 31). “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim: 8). “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapatiAllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “(An-Nisa': 110). “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali “ (HR. Muslim).
Ø muraja’ah al-Quran.“Penghapal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah ia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan “.[HR. At Tirmizi]
Ø Shalatlah dua rakaat dhuha begitu matahari terbit. Abu Hurairah berkata:“Sahabatku (Rasulullah ) menasihatiku akan tiga hal (yang tidak akan pernah kutinggalkan hingga ku mati) : puasa tiga hari setiap bulan (puasa bhidh), dua raka’at shalat dhuha dan agar aku melaksanakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka Aku akan mencukupimu di sore harimu.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)

Saat Beraktifitas

Ø Menjaga perbuatan dan lisan dari dosa. “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa kecilmu) dan Kami memasukkanmu ke tempat yang mulia (Surga). “(An-Nisaa': 31). “Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata ‘Sesungguhnya aku sedang puasa” (HR. Al- Bukhari, Muslim). “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum .(HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya). Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga. ” (HR. Ahmad)
Ø  Minta ampun bila tersalah. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Q.S. Ali Imran 133-134).
Ø Menuntut ilmu ikhlas karna Allah. “Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah SWT memudahkan baginya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim]. “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. ” (HR. Muslim).

Pertengahan Siang

Ø  Berusahalah istirahat menjelang atau sesudah Zuhur sebagai simpanan energi untuk qiyamullail. “Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang ” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Setelah Ashar
Ø Zikir sore.” Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang. (QS. Al-Insan:25)
Ø Perbanyak shalawat. “Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku ketika pagi sepuluh kali dan ketika sore sepuluh kali maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR. Ath-Thabraniy)
Ø Memperbanyak sedekah. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Tidak boleh dengki kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).
Ø Melayani kebutuhan keluarga. “Sebaik-baik wanita penunggang unta wanita Quraisy yg baik adl yg sangat penyayang terhadap anak ketika kecil dan sangat menjaga suami dlm apa yg ada di tangannya.” “Engkau sama dekatnya dengan Surga dan sama jauhnya dari Neraka sebagaimana dekatnya engkau dalam melayani suamimu”, dan dalam riwayat lain “suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu”.“Seorang perempuan yang menegakkan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, dan mematuhi suaminya akan memasuki Surga melalui pintu mana saja dia suka”. (HR. Bukhari dan Muslim). (HR. Bukhari dan Muslim).

Setelah Maghrib

Ø Menyegerakan berbuka dengan korma dan air putih. “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur . ” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi). “Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa disertai dengan berlebih-lebihan dan kesombongan. ” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
Ø Berdoa dan bersyukur ketika berbuka. “Sesungguhnya orang-orang yang ber-puasa pada saat berbuka mempunyai waktu dimana do’anya tidak tertolak” (HR. Ibnu Majah). “Bagi orang yang berpuasa dua kegembiraan, kegembiraan ketika ia berbuka serta kegembiraan ketika ia menemui Rabbnya” (HR. Bukhari dan Muslim). “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS Ibrahim:7).
Ø Lakukan shalat magrib dulu, baru lanjutkan dengan makanan berat. “tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dgn suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Ku-wajibkan.” (HR. Bukhari)
Ø Menjamu orang lain berbuka. “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya. ” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Setelah Isya

Ø  “Barangsiapa mendirikan shalat Isya’ dengan berjamaah; maka ia bagaikan melaksanakan shalat separuh malam; dan barangsiapa shalat shubuh berjamaah maka ia bagaikan shalat semalam suntuk. ” (HR. Muslim). “Sesungguhnya shalat yang terberat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya’ dan Shubuh, jika mereka mengetahui pahalanya, niscaya mereka mendatanginya kendatipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Ø  ”Siapa saja yang shalat Tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah).
Ø Bersiap tidur dgn mengunci pintu dll. “Matikanlah lampu-lampu diwaktu malam jika kalian hendak tidur, dan tutuplah pintu-pintu, bejana serta makanan dan minuman kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ø Muhasabah diri dan memaafkan kesalahan orang lain. “…Maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (Q.S.Asy-Syura : 40).“Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika ku beritahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mahu memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.”(HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).
Ø Berzikir, membaca surat Sajadah, Al-Mulk, ayat kursi dan DOA TIDUR. Disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam TIDAK TIDUR, sebelum membaca “Alif laam mim Tanzil..” (surat As-Sajadah) dan “Tabaarakalladzi biyadihil-mulk…” (surat Al-Mulk) “ (HR. At-Tirmidziy dan An-Nasa`i).

MAteri dikumpulkan oleh: Dwi Sukmanila Sayska

GEMBIRA BERHARI RAYA

repost tulisan lama...

GEMBIRA BERHARI RAYA

 by Dwi Sukmanila Sayska MIS

Seiring terbitnya fajar Syawal, Ramadhan berlalu meninggalkan kita.  Tak terasa begitu cepat bergulir detik-detik indah itu. Padahal kita belum maksimal melaksanakanshiyam, belum tuntas berulangkali mengkhatamkan dan mentadabburi Al-Qur’an, belum optimal memanfaatkan sepertiga malam, belum cukup banyak bersedekah, dan belum puas melaksanakan ibadah-ibadah unggulan lainnya.  Akankah tahun depan bertemu lagi dengan Ramadhan? Sudah layakkah ibadah sebulan silam mengangkat diri menjadi lebih takwa dan terbebas dari neraka? Dan kini, di hari raya ini, apakah kita benar-benar berhak merayakan kegembiraan itu?

Memaknai Idul Fitri

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ اْلأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
Rasulullah shalallahu alaihi wa salam datang ke Madinah sedangkan mereka (penduduk Madinah) memiliki dua hari untuk bermain dan bergembira ria. Maka Rasulullah bersabda, ‘Ada apakah dengan dua hari ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami biasa bermain dan bergembira ria pada masa jahiliyah di dua hari tersebut.’ Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari kalian dengan dua hari yang lebih baik darinya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.’ (HR. Nasa’i)

Berdasarkan hadis di atas, hari raya adalah hari kegembiraan bagi setiap yang beriman. Jadi, meskipun sedih berpisah dengan Ramadhan, hari raya tetap harus disambut gembira. Gembira karena berhasil melepaskan dosa-dosa selama Ramadhan. Gembira karena menang melawan hawa nafsu dan bermujahadah dalam ketaatan dan ibadah. Gembira karena hari ini Allah membolehkan berbuka, merahmati kita dan melipatgandakan pahala puasa dan ibadah Ramadhan kita. Karenanya kegembiraan ini tidak pantas disambut dengan gelora nafsu semata. Allah mengingatkan dalam surah An-Nashr, fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu, innahu kana tawwaba. Kemenangan harus disambut dengan tasbih, tahmid dan istighfar.

Perayaan Di Tanah Air Dan Mesir

Dalam literatur Islam klasik, Idul Fitri disebut sebagai Idul Ashgar sementara Idul Adhha adalah Idul Akbar. Itulah kenapa masyarakat Mesir jauh lebih menyemarakkan Idul Adha ketimbang Idul Fitri.

Sedangkan di Indonesia, Idul Fitrilah hari raya besar. Para perantau mudik untuk berhari raya bersama keluarga. Idul Fitri tak hanya dirayakan satu dua hari, tapi selama bulan Syawal adalah lebaran. Beraneka kue dan minuman spesial dihidangkan, berbagai masakan khas disajikan. Pakaian dan perlengkapan rumah serba baru. Masyarakat saling berkunjung ke sanak saudara, handai taulan dan tetangga untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.  Anak-anak gembira mendapat uang raya. Beberapa instansi, organisasi dan komunitas mengadakan halal bihalal. Pejabat negara hingga presiden tak ketinggalan mengadakan open house untuk masyarakat luas.
Bagi masyarakat Mesir, Idul Fitri cukup dirayakan dengan kumpul keluarga dan rekreasi di tempat hiburan, taman atau kebun binatang. Sebagian penduduk Kairo juga mudik lebaran, membuat suasana pemukiman menjadi lengang, rumah-rumah kosong dan jalanan yang nyaris hening. Ini menambah rasa sepi di hati para mahasiswa Indonesia yang tengah dilamun kerinduan mendalam akan kampung halaman.

Untungnya masisir masih punya komunitas kekeluargaan dan persatuan mahasiswa yang menggelar berbagai open house. Ziarah dan saling berkunjung ke rumah senior dan kawan-kawan juga tetap dibudayakan. Hingga Idul Fitri di Mesir tetap penuh arti, sebagai ajang mempererat ukhuwah dan silaturrahmi.

4 Kategori Kegembiraan

Menyambut Idul Fitri dengan penuh kegembiraan adalah sebuah kemestian. Namun faktanya, kegembiraan yang dirayakan berbagai lapisan masyarakat tidaklah sama substansinya. Sedikitnya kita bisa bagi jadi 4 kategori:

Pertama, kegembiraan anak-anak menyambut lebaran. Bagi mereka hari raya identik dengan baju baru, makanan lezat, dapat “salam tempel” ketika berkunjung ke rumah keluarga dan sanak saudara, serta bertamasya ke taman hiburan. Mereka hanya menginginkan sesuatu yang sifatnya kebendaan dan belum paham makna filosofis dari Idul Fitri.
 Kedua, kegembiraan yang dirasakan muslim awam/Islam KTP. Meski jarang shalat dan puasa atau bahkan tidak sama sekali, mereka tetap gembira menyambut Idul Fitri. Selain kegembiraan bersifat materi, mereka juga menikmati nilai-nilai sosial di hari lebaran yaitu tradisi untuk mengunjungi sanak saudara, kerabat dan kawan dekat.
Ketiga, kegembiraan yang dirasakan oleh umat muslim yang menjalankan perintah syariat di bulan Ramadhan. Meraka puasa, sholat tarawih, shadaqoh, tadarus Al-Qur’an,  i’tikaf, dan memperbanyak ibadah-ibadah sunnah. Tetapi semua itu masih dirasakan sebagai beban bahkan seolah terbelenggu olehnya. Padahal hanya setan saja yang dibelenggu selama Ramadhan. Bagi muslim seperti ini, selain gembira dengan perayaan bersifat materi dan tradisi silaturrahmi, mereka juga memaknai Idul Fitri sebagai momen terlepas dari kekangan Ramadhan. Dan ketika takbir hari raya berkumandang mereka merasa bebas dan secara tidak sadar melampiaskannya secara berlebihan. Pasca Ramadhan bukannya membaik, malah kembali pada kondisi awal. Semua ketaatan dan beragam ibadah mulai menyusut hingga tak tampak lagi. Sungguh ironi.  
Keempat, kegembiraan yang dirasakan umat muslim yang menjalankan ibadah Ramadhan dengan penuh keimanan. Ramadhan  dimaknai sebagai momentum peningkatan kualitas diri, hingga dimanfaatkan dengan keikhlasan dan semangat tinggi. Ramadhan dirasakan sebagai kesempatan langka yang belum tentu terulang lagi sehingga digunakan sungguh-sungguh demi menggapai ampunan dan ridha Allah. Lalu ketika takbir hari raya menggema, kegembiraan tertinggi mereka berasal dari rasa syukur yang tak terhingga. Syukur atas kesempatan yang diberikan Allah untuk merengkuh pahala sebesar-besarnya di bulan penuh berkah. Syukur karena diberi peluang menempa diri dan meningkatkan kualitas iman di bulan penuh ampunan. Sehingga ketaatan dan kedisiplinan ibadah selama Ramadhan menjadi bekal peningkatan untuk sebelas bulan berikutnya.

7 Sikap Gembira Berhari Raya

Ada beberapa sikap yang hendaknya terwujud dalam kegembiraan dan kebahagiaan di Hari Raya Idul Fitri, agar tidak keluar dari koridor syariat, yaitu:
1.      Tidak Berlebih-lebihan:
1.      Dalam mengkonsumsi makanan
Karena begitu beragamanya hidangan istimewa di hari raya, kita lupa dengan kapasitas perut kita, sehingga terlalu banyak mengkonsumsi makanan. Sementara Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Dan makan dan minumlah kalian, tapi janganlah kalian berlebih-lebihan. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Al-A’raf 31)
2.      Dalam berpakaian. Meski disunnahkan memakai pakaian baru, tetapi jangan sampai bermewah-mewah apalagi melanggar batasan syar’i. Allah berfirman:
وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُولَى
“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab 33)
3.      Dalam tertawa dan bercanda.
Tertawa, bercanda, mendengarkan hiburan termasuk perkara yang dimubahkan terutama pada Idul Fitri. Namun jangan sampai melupakan kewajiban atau menjerumuskan pada sesuatu yang dilarang. Allah berfirman:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلاً وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.(Attaubah 82)
2.      Mengevaluasi ibadah Ramadhan dan penuh harap agar semuanya diterima Allah dan diampuni dosa-dosa yang berlalu. Rasulullah bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian berdoa maka janganlah dia mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Kamu mau’ tetapi hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam memintanya dan memperbesar harapan, sebab Allah tidak merasa berat terhadap apa pun yang akan diberikan oleh-Nya.” (HR. Muslim).
3.      Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dan disiplin dalam ibadah, karena predikat taqwa haruslah berkelanjutan hingga akhir hayat. Rasulullah bersabda:
”Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun dan kapanpun juga, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapuskannya, dan bergaullah bersama  manusia dengan akhlak yang baik”. (HR Tirmidzi dan Ahmad).
4.      Saling mendoakan semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita. Dalam sebuah hadits diriwayatkan :
قَالَ وَاثِلَةٌ لَقَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَيْدٍ فَقُلْتُ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ قَالَ نَعَمْ تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكَ
Watsilah bin Al-Asqo berkata, ‘Aku menemui Rasulullah pada hari Id lalu aku mengucapkan ‘Taqabbalallah Minna Wa Minka’, kemudian Rasulullah menjawab, ‘Ya, Taqabbalallah Minna Wa Minka’ (HR. Baihaqi).
5.      Jadikan Idul Fitri sebagai salah satu momentum memaafkan orang lain, bersilaturrahim dan meminta maaf kepada keluarga, sanak saudara, teman dan tetangga. Allah berfirman:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(Penghuni surga adalah) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran: 134)
Rasulullah bersabda:
”Siapa yang ingin dimudahkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya menyambung tali kerabat.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)
“Siapa yang menengok orang sakit atau menziarahi saudaranya karena Allah Ta’ala, maka datanglah penyeru yang menyerukan; engkau baik, dan langkahmu juga baik dan engkau akan masuk surga sebagai tempat tinggal.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Semoga kegembiraan Idul Fitri ini betul-betul bergema dalam jiwa kita. Bukan hanya kegembiraan semu bersifat kebendaan dan kesenangan duniawi semata. Dan semoga juga dipenuhi semangat juang di 11 bulan mendatang, untuk terus melestarikan ketaatan Ramadhan, senantiasa mengisi hari-hari dengan amal kebaikan. Karena sejatinya, hari raya ini adalah hari pertama kita bertempur kembali melawan godaan setan. Wallahu A’lam.

Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Bundo Kanduang KMM Mesir 2010.